Kota Batu Tanpa TPA: WCD 2026 Jadi Pengingat, Sampah Harus Dikurangi, Dipilah dan Dikelola dari Rumah

Kota Batu, Pintubatunews.com — Rangkaian aksi World Cleanup Day (WCD) 2026 di Kota Batu berlanjut pada Sabtu (26/9/2026). Sebanyak 352 peserta  terdiri dari paguyuban PKL Alun-Alun Batu, Poltekad, relawan lingkungan, Relawan Eco Enzyme, komunitas lingkungan, Tim Praktisi dan Tim Pendukung Pengelolaan Sampah, serta warga RW 9 Kelurahan Sisir. Mereka mengikuti aksi bersih-bersih lingkungan yang dimulai pukul 07.00 WIB hingga selesai dengan titik kumpul di Alun-Alun Kota Batu.

World Cleanup Day merupakan gerakan aksi bersih-bersih lingkungan secara global yang melibatkan masyarakat, pemerintah, komunitas, sekolah, dunia usaha dan berbagai organisasi. Gerakan tersebut tidak hanya mendorong kegiatan memungut sampah, tetapi juga membangun kesadaran serta perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah.

Secara global, World Cleanup Day diperingati setiap 20 September. Peringatan tersebut ditetapkan melalui Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) A/RES/78/122.

Di Kota Batu, aksi pada Sabtu (26/9/2026) menjadi hari kedua rangkaian kegiatan WCD 2026 sekaligus bagian dari kegiatan memperingati Hari Jadi ke-25 Kota Batu. Apel sebelum kegiatan dipimpin langsung Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan, SE, MSE, MA.

Dalam sambutannya, Dian mengatakan kegiatan tersebut merupakan rangkaian World Cleanup Day sekaligus memperingati Hari Jadi Kota Batu 2026. “Ini adalah rangkaian kegiatan yang dibuka oleh Bapak Wali Kota Batu kemarin dengan memimpin apel dan dihadiri oleh beberapa instansi vertikal dan juga Pemerintah Kota Batu,” katanya.

Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Kota Batu, termasuk di 24 desa/kelurahan, dengan kegiatan membersihkan TPS3R maupun lingkungan masing-masing.

Foto saat membersihkan sampah dibawah pohon beringin

Menyasar Kawasan Padat Aktivitas Wisatawan

Pada hari kedua, kegiatan difokuskan pada sejumlah kawasan yang dinilai strategis dan memiliki aktivitas masyarakat cukup tinggi. Di antaranya Alun-Alun Kota Batu, kawasan Masjid An Nur, trotoar, Jalan Ganesha, Jalan Kartini serta kawasan pedagang kaki lima (PKL).

Sejumlah warga dari wilayah Kelurahan Sisir juga ikut ambil bagian. Kegiatan ini sekaligus dikaitkan dengan program RW Mandiri Sampah yang sedang didorong DLH Kota Batu. “Kita lanjutkan pada obyek vital strategis di Kota Batu, Alun-Alun Kota Batu, perwakilan rumah ibadah Masjid An Nur dan trotoar, wilayah yang cukup padat didatangi wisatawan, area PKL Jalan Ganesha dan Jalan Kartini,” ujar Dian.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, termasuk unsur Poltekad yang turut berkontribusi dalam kegiatan tersebut. Menurut Dian, keterlibatan berbagai elemen masyarakat menjadi bagian penting untuk mewujudkan Kota Batu yang berkelanjutan, sejalan dengan tema Hari Jadi ke-25 Kota Batu, “Creative Sae, untuk Batu Sae Berkelanjutan.”

Kota Tanpa TPA, Pengelolaan Sampah Jadi Tantangan

Dian menegaskan, persoalan sampah menjadi tantangan tersendiri bagi Kota Batu karena saat ini Kota Batu dikenal sebagai kota tanpa Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Ia menyebut pengelolaan sampah di Kota Batu sudah berada pada posisi hampir 70 persen sampah terkelola, namun masih terdapat sekitar 30 persen sampah yang belum dikelola dan berpotensi terbuang secara liar ke lingkungan.

“Kita menghadapi situasi sebagai kota satu-satunya di Indonesia sebagai kota tanpa TPA. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Kita sudah mencapai posisi ideal hampir 70 persen sampah sudah terkelola, masih ada sisa 30 persen sampah belum dikelola,” jelasnya.

Menurut Dian, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan, khususnya tata kelola persampahan, tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau aksi bersih-bersih semata.

“Ini sebagai penanda bahwa kepedulian atas lingkungan hidup, terutama tata kelola sampah, tidak akan berhenti. Untuk pengurangan, pemanfaatan, pengelolaan itu menjadi keniscayaan bagi kita semua,” tegasnya.

Foto sampah yang sudah masuk ditimbang.

Sampah Organik dan Anorganik Dipilah

Usai apel, 352 peserta kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok. Peserta mendapatkan trash bag untuk digunakan dalam aksi pembersihan di sejumlah sektor yang telah ditentukan. Dalam pelaksanaannya, sampah yang dikumpulkan langsung dipilah berdasarkan jenisnya.

Sampah organik dimasukkan ke dalam trash bag berwarna hitam, sedangkan sampah anorganik dimasukkan ke dalam trash bag berwarna silver.

Sampah yang telah dikumpulkan kemudian ditimbang untuk mengetahui jumlah sampah yang berhasil diangkat dari masing-masing sektor. Hasil pemilahan dari setiap kelompok selanjutnya dibawa dan dikumpulkan pada satu titik pengumpulan untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

Pola tersebut sekaligus menegaskan pesan WCD bahwa aksi bersih lingkungan tidak berhenti pada kegiatan memungut sampah, tetapi juga harus diikuti dengan pemilahan dan pengelolaan sesuai jenisnya.

Foto saat membagikan kompos kepada pengguna jalan

DLH Bagikan Dua Truk Kompos

Selain kegiatan bersih-bersih, DLH Kota Batu juga melakukan aksi edukasi kepada masyarakat dengan membagikan kompos sebanyak dua truk yang dikemas dalam plastik dengan berat sekitar 3 kilogram per kemasan. Kompos tersebut dibagikan di sekitar Alun-Alun Kota Batu kepada pengguna jalan yang melintas.

Pembagian kompos menjadi bagian dari upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa sampah organik yang dikelola dengan benar dapat menghasilkan produk yang kembali bermanfaat bagi lingkungan.

Melalui rangkaian WCD 2026 tersebut, DLH Kota Batu mendorong agar kesadaran mengelola sampah tidak hanya muncul saat kegiatan bersih-bersih berlangsung, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari, terutama mulai dari sumber sampah yakni rumah tangga dan lingkungan masyarakat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *